Monday, December 12, 2011

AKU MASIH MENCINTAIMU #1


kasih,
lewat bisu nuansa malam,
kuserukan rasa rinduku teruntukmu,
aku masih mencintaimu,
ketika mega mematung dan memabatu,
seketika alam hanya mampu menggumam,
dan kata terkekang dalam peti kedap,
namun sekejap bayangmu membankitkanku,
meniupkan ruh ke dalam kaku jasadku,
ku cukupkan hidup hanya dengan merinduimu…

dan kini aku masih menyisakan cinta,
didalam bola mataku,
tajam menusuk kelam gelap,
menembus tebal kabut halimun,
meskipun sempat tertutup resah,
meskipun sempat terselip gelisah…

RISAU MALAM


Ragaku mematung dipelukan sunyi
Tak mampu ku memecah makna sepi
Diam menawan kata hingga tak bersuara
Dingin seolah membekukan maya pada

Tiada semburat semangat yang biasanya berarak
Gelap melerai pancaran binary mata dan menutupnya
Membiarkan rasa tak terpendam dalam lelap
Tanpa berharap asa diceritakan oleh mimpi

Aku pasrah dan tak berdaya
Meski kesekian kalinya batinku menyesak didada
Seolah tak ada rongga yang mengapung diudara
Menyisakan kepiluan yang menyeruak di tepian jiwa

Ku hanya bisa pejamkan mata
Mencoba mencari ketenangan yang mungkin disembunyikan oleh gulita
Biarlah berkubang didalam kesunyian tak berbatas
Bahkan untuk berdiri tegak seolah terhadang dan sia-sia…

Sunday, December 11, 2011

KASIH


kasih…
kini aku kehilangan jejakmu,
yg kemarin sempat datang diantara fajar yg merona,
menghangatkan semestaku,
menguatkan hasrat hidupku.
~
kasih…
kini aku kehilangan bayangmu,
yg senja kemarin datang mengindahkan langitku,
menemaniku mencari kedamaian yg hilang.
~
kasih…
kala gelap bertahta menyelimuti malampun,
tak jua kau hadir disisi,
tuk bersama merangkai mimpi yg terserak,
diantara hayal-hayal yg berarak.
~
kasih…
ku rindu fajarku yg kmarin,
ku rindu senjaku yg dulu,
ku rindu dirimu itu…

DEMI CINTAMU

kepada sebentuk laut batas bertemunya bumi dan langit,
yg membenamkan kerinduanku yang terdalam,
dalam dekapan singkatan waktu,
tersisa harapan yg terselip diantara butiran pasir,

semoga angin laut,
kan membawa lagi,
keindahan kemurnianmu,
yang kemarin terbawa ombak,
yang kemarin tersapu badai.
merenggutnya dariku…

mencintamu,
membutakan mata dan hati,
laksana malam tanpa bintang,
jejak-jejak gelap tak tembus pandang,

merindumu,
ibarat sampan yg tak jera diterjang obak,
tuk hancur sekalipun tak mengapa,
tak peduli luka bernanah,

!*aku mencintai kesakitan ini, demi cintamu*!

DENGARKANLAH, AKUPUN MENDENGAR

ketahuilah duhai matahariku
kau laksana suara yang menggema di jiwaku
adakah digdayaku yang telah ditawan api cinta ini
karena syairmu yang mengalun bak kidung-kidung surgawi

di antara perasaan-perasaan tak berdasar dan tak bertepi ini
jasadku terkulai laksana merpati yang patah sayapnya
ku panggil-panggil namamu di sisa harapku
tapi kau juga terpuruk di keremangan malam

akupun mendengar rintih jiwamu
akupun mendengar risau hatimu
ku dengar resah di sudut kalbumu
dan segala hasrat jiwa yang masih tersudut di mimpi terpencilmu,

ku coba tuk menjawab setiap tanya di batinmu
kemarilah kasih
bersandarlah di bayang bahuku
yakinlah aku kan ada di setiap hembus nafasku
ulurkan sayap patahmu
kan kusembuhkan dengan syair jiwaku

duhai malaikatku
berjanjilah di hadapan langi dan bintang gemintang
sekalipun kita takkan bersatu dalam raga
namun jiwa kita kekal dalam semesta cinta kita...

SAJAK SEDERHANA


bukan rahasia lagi
tanpamu, tak kuasa aku melawan sepi
yang menemaniku dsaat malam tiba.

tak bsa aku pungkiri
tanpamu, tak kuasa aku memadamkan curiga
yang menghantuiku disaat api cemburu membakar hati.

tak bisa aku sembunyikan
tanpamu, aku tak bisa menahan dingin
saat angin malam memeluk jasad ini.

tak terelakkan lagi
tanpamu, tak kuasa ku redam prasangka
dsaat badai gulana menggoyah keyakinan akan kesetiaanmu

tak mungkin aku pendam
tanpamu, tak bisa ku tahan rindu
saat jarak dan waktu memisahkan kita!

tapi keyakinanku terpatri begitu kuat,
untuk mengelakkan semua kekhawatiranku yang semu itu,
ku yakin kasih....
kau setia!

KEHILANGANMU KALA PAGI


tlah ku lewati pagi yang samar,
seakan menyiratkan kesunyian yang mendalam,
entah dimana mentari itu menyembunyikan diri,
karena biasanya dia datang lebih awal...

kurasakan rindu ini kian hebat,
disaat nyanyian burung tak jua ku dengar,
tak kudapati simphony itu yang biasa terngiang,
tembang kerinduan lirih perlahan menghilang...

wahai sukma jiwa terpisahku,
jejakmu kini tak kulihat lagi,
untukku mencari peraduan bayangmu,
inikah isyaratmu tuk tinggalkanku?!

Dimanakah engkau, Jiwaku?!